May 10, 2008

SMA 34 Pondok Labu Mendaur Ulang Sampah Sendiri

Filed under: Technology, Life

TANGAN Endang Wardiningsih dengan cekatan membolak-balik sampah di bak penampungan sampah SMA 34 Pondok Labu, Jakarta, Selatan. Tidak terlihat sedikit pun rasa jijik di wajah ibu guru sekolah itu. Ia menjelaskan dengan terperinci bagaimana sampah daun dan ranting dari pepohonan di lingkungan sekolah itu ditampung di bak dan kotak-kotak plastik untuk diproses menjadi pupuk kompos.

"Proses membuat kompos ya hanya seperti ini. Sederhana dan mudah," katanya, sambil meneruskan membolak-balik tumpukan sampah di bak penampungan. Selain cara yang sederhana itu, di sekolah tersebut juga dikembangkan pembuatan pupuk kompos dengan bantuan cacing tanah.

Pembuatan pupuk kompos memang relatif mudah dan manfaatnya sangat besar. Sampah dedaunan dan ranting dari pepohonan di lingkungan sekolah itu dimasukkan bak penampungan. Agar proses dekomposisi berlangsung optimal, tempat penampungan itu ditutup. Hal itu dilakukan untuk menghindari terpaan sinar matahari dan guyuran hujan.

Sampah yang diproses menjadi kompos, harus dalam keadaan basah, tetapi tidak sampai berair. Itu sebabnya bak sampah ditutup sehingga sampah tidak cepat kering karena penguapan, atau terlalu basah karena hujan. Agar pengomposan berlangsung merata, tumpukan sampah harus dibolak-balik setidaknya seminggu sekali. Dalam waktu dua hingga tiga bulan, tumpukan sampah itu akan terurai menjadi kompos.

Sementara itu, pembuatan pupuk kompos dengan bantuan cacing prosesnya tidak jauh berbeda dengan cara di atas. Sampah dedaunan dan ranting diletakkan di kotak-kotak plastik dan diletakkan di rak susun. Kotak-kotak itu bagian bawahnya diberi beberapa lubang untuk jalan keluar air rembesan.

Pada rak paling bawah ditempatkan tumpukan sampah paling lama. Kemudian di atasnya sampah yang lebih baru, dan di atasnya lagi sampah terbaru. Pada kotak paling bawah itulah diberi sedikit tanah dan cacing tanah. Penyiraman air dilakukan pada kotak di rak paling atas dengan jumlah yang cukup, tidak berlebihan. Prinsipnya, penyiraman dilakukan agar sampah dalam keadaan selalu basah. Air dari kotak paling atas akan merembes ke bawah dan keluar melalui lubang-lubang di bawahnya. Air kemudian menetes membasahi tumpukan sampah di kotak kedua, dan seterusnya sampai di kotak ketiga.

Kondisi yang basah itulah memungkinkan cacing di kotak paling bawah bertahan hidup sambil memakan dedaunan dan ranting. Apabila dedaunan dan ranting itu telah terurai, cacing-cacing itu akan naik ke kotak kedua melalui rambatan, dan menyusup masuk melalui lubang rembesan air. Selanjutnya kotak ketiga diangkat dan dipindahkan, karena pupuk kompos telah terbentuk dan siap dipakai. Sedangkan kotak pada rak kedua, diturunkan ke rak ketiga, dan kotak pada rak pertama turun ke rak kedua. Pada rak paling atas dapat ditempatkan tumpukan sampah baru.

Proses pembuatan kompos dengan bantuan cacing itu berlangsung sekitar satu hingga dua bulan. Rak harus selalu dalam keadaan tertutup. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan tutup plastik warna hitam atau warna gelap. Penutupan dilakukan untuk menghindari terpaan sinar matahari dan siraman air hujan agar proses dekomposisi berlangsung sempurna dan cepat.

Pupuk kompos itu selanjutnya digunakan untuk menanam tanaman obat. Penanaman dilakukan dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Misalnya bekas botol dan gelas plastik kemasan air mineral. "Gelas atau botol bekas itu diperoleh dari kantin sekolah, bekas minum siswa," kata Endang.

Botol plastik bekas itu dipotong bagian atasnya dan kemudian dilubangi di bagian bawahnya. Demikian pula bekas gelas plastik, diberi lubang bagian bawahnya.

Wadah-wadah itu diisi kompos dan digunakan untuk media tanaman obat. Pot-pot dari botol dan gelas bekas itu kemudian disusun di rak, sedemikian rupa sehingga berjajar rapi.

Di antara tanaman obat yang dikembangkan terdapat sambiloto, kumis kucing, daun dewa, keladi tikus, sosor bebek, jintan, lavender, dan berbagai macam lainnya. Pada tiap pot itu diberi label nama pohon, manfaat, dan cara penggunaannya sebagai obat penyembuh berbagai penyakit.

Tanaman-tanaman obat itu dijual, Rp 2.000 hingga Rp 3.000 tiap potnya. Uang hasil penjualan digunakan untuk program pengentasan kemiskinan atau disingkat taskin. Uang itu disumbangkan bagi siswa dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu di sekolah itu. Semua kegiatan itu dilakukan para siswa dalam lingkup kegiatan ekstrakurikuler di bawah bimbingan Endang Wardiningsih.

Daur Ulang

Di sekolah itu para siswa juga diajari mendaur ulang kertas. Proses daur ulang kertas juga sangat sederhana seperti halnya membuat pupuk kompos. "Idenya dari upaya memanfaatkan sampah kertas di lingkungan sekolah," Endang memaparkan.

Sampah kertas yang terkumpul mula-mula dipotong kecil-kecil dan kemudian direndam dalam air selama dua hingga tiga jam. Setelah itu potongan kertas diblender hingga menjadi bubur kertas dan siap dicetak. Bubur kertas itu dicampur air dengan perbandingan satu liter kertas dengan lima liter air. "Sewaktu memblender, sebaiknya gunakan blender berkualitas bagus. Blender yang kualitasnya kurang bagus sebaiknya jangan digunakan, karena hasilnya kurang maksimal," Endang mengingatkan.

Pencetakan dilakukan dengan menggunakan kawat kasa atau screen yang diberi bingkai kotak kayu. Ukuran kotak sesuai dengan yang dikehendaki. Screen dengan lubang berukuran N36 hingga 38, seperti biasa digunakan dalam proses sablon dan dapat dibeli di toko-toko yang menjual peralatan sablon.

Pencetakan dilakukan pada papan multipleks yang dilapisi kain hero. Jenis kain itu dapat dibeli di toko-toko kain. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut screen ruckle untuk meratakannya. Screen ruckle juga dapat dibeli di toko alat-alat sablon. Tebal tipisnya kertas diatur sesuai keperluan.

Setelah bubur kertas rata dan menempel pada kain hero, cetakan dilepas. Proses berikutnya adalah pengeringan dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari atau dalam ruangan. Apabila sinar matahari cukup panas, pengeringan dapat berlangsung hanya dua jam.

"Dulu kami mencampur bubur kertas dengan lem kayu berwarna putih supaya kertas yang dihasilkan cukup liat. Namun, cara ini terpaksa kami tinggalkan karena ada lembaga swadaya masyarakat yang keberatan dengan penggunaan lem itu, karena tidak ramah lingkungan," Endang memaparkan lebih jauh.

Kertas daur ulang itu dapat dibuat berwana putih saja atau diberi warna tertentu. Pewarnaan dilakukan menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan. Misalnya untuk mendapatkan kertas warna kuning, digunakan kunyit yang diblender dan dicampurkan bubur kertas. Bahan alami lainnya yang juga digunakan yaitu daun suji, temulawak, bunga telang, buah murbei, buah jamblang, dan sebagainya.

Ada kalanya kertas daur ulang itu juga diberi motif agar terlihat lebih indah. Motif dapat dibuat dengan mencampurkan bunga bugenvil yang dikeringkan dan dipotong-potong, atau dibiarkan utuh. Bunga bugenvil itu dicampur bubur kertas dan sebelum dicetak. Motif dapat pula dibuat dengan memanfaatkan sisa serutan kayu yang lebih dulu diblender dan kemudian dicampur bubur kertas.

Kertas daur ulang itu selanjutnya dipakai untuk membuat barang-barang kerajinan tangan. Misalnya untuk alas album foto, pelapis pigura, kotak tempat pensil, surat undangan, dan sebagainya.

Daur ulang sampah dan kertas di SMA 34 itu dirintis Endang sejak 1996 dengan bimbingan LSM Wahana Lingkungan Hidup dan UNESCO, Organisasi PBB di Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.

Sumber : www.suarapembaruan.com 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://danielbandicoot.blogsome.com/2008/05/10/sma-34-pondok-labu-mendaur-ulang-sampah-sendiri/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.